Kalender Bali Online

Jumat, 28 September 2012

HUKUM KARMA PHALA

Diposkan oleh I WAYAN SUDIRA at Jumat, September 28, 2012


1. Pengertian Hukum Karma
Hukum Karma di dalam salah satu sradha (keyakinan) Hindu lebih dikenal dengan istilah Karma Phala. Kata hukum dalam bahasa Indonesia artinya undang-undang atau peraturan. Sedangkan karmaphala adalah istilah dalam bahasa sanskerta yang terdiri dari kata karma yang artinya perbuatan atau pekerjaan dan kata phala yang artinya buah, hasil, akibat, upah atau ganjaran.
Dalam kontek ini yang dimaksud Karma Phala adalah segala perbuatan dan kegiatan yang dilakukan tanpa kecuali baik secara sadar maupun dilakukan tanpa tidak sadar. Dimana perbuatan atua aktivitas manusia bersumber dari manah (pikiran), wacika (perkataan), dan kayika (perbuatan). Oleh karena itu bentuk-bentuk Karma Phala sesuai dengan sumbernya yakni karma dalam bentuk pikiran, karma dalam bentuk perkataan/ ucapan dan karma dalam bentuk perbuatan atau tingkah laku.
Hukum Karam Phala yaitu hukum alam yang menyatakan bahwa segala perbuatan akan menimbulkan hasil atau akibat. Perbuatan baik akan menimbulkan kebaikan (kebahagiaan) dan perbuatan jahat akan menimbulkan kejahatan (penderitaan). Hal ini sesuai dengan hukum sebab akibat yang menyatakan bahwa setiap sebab akan manimbulkan akibat. Segala sebab yang berupa perbuatan akan membawa akibat sebagai hasil perbuatan itu. Maka dari itu segala karma (perbuatan) akan mengakibatkan karma phala (hasil perbuatan).
Hukum karma phala ini berlaku untuk semua manusia dimana saja, kapan saja karena hukum tersebut tidak dipengaruhi oleh ruang dan waktu.
Jenis-jenis hukum karma phala yaitu :
1.      Sancita Karma Phala (dulu-sekarang) yaitu karma dalam kehidupan masa lampau yang baru dinikmati hasilnya dalam kehidupan atau kelahiran sekarang.
2.      Prarabda Karma Phala (sekarang-sekarang) yaitu karma yang dilakukan dalam kehidupan sekarang yang hasilnya dapat dinikmati dalam kehidupan sekarang juga, dan di Bali sering disebut dengan karma phala cicih.
3.      Kriyamana Karma Phala yaitu perbuatan yang dilakukan dalam kehidupan sekarang, hasilnya bari dapat dinikmati pada kehidupan yang akan datang.

Keyakinan terhadap hukum karma phala ini memotivasi umat Hindu untuk selalu berikhtiar kearah hal-hal yang positif, senantiasa berpikir, berkata dan berbuat yang baik dan benar. Perbuatan yng baik diebut Subhakarma dan perbuatan yang tidak baik disebut Asubhakarma.
Dalam Bhagawad Gita disebutkan bahwa ada dua kecendrungan sifat manusia yaitu
1.      Daiwi Sampat yaitu mutu/ sifat kedewaan
2.      Asuri Sampat yaitu mutu/ sifat keraksasaan
Mengenai Daiwi sampat adalah menuntun perasaan manusia kearah keselarasan  antara sesama manusia, sifat-sifat dimaksud seperti : jujur menguasai indriya, berderma, tidak menyakiti makhluk dan berpegang pada kebenaran.
2.      Hubungan Antara Siwaratri Dengan Karma Phala
Menurut Padmapurana :
“Srnu rajan prayaksyami sivaratrivratam taya vratanan
Uttanan saksae chivalekaikasadhanam magmaphalgunayer
Madhye krsnapaksa caturdasi sivaratriti vijnnya savapa
Patrai caturyamam tayanti sivatulyatam”
Artinya :
Tuanku dengarkan dan saya akan menerangkan kepada tuanku tentang berata malam Siwa, yang jelas merupakan brata yang paling istimewa yaitu jalan untuk mencapai surga Dewa Siwa, malam ke-14 yang gelap pada pertengahan bulan magma (sasih kepitu) atau phalguna (sasih kewulu) haruslah dikenal dengan malam Siwa yang membebaskan semua dosamereka yang berpuasa dan tetap tidak tidur berbhakti kepada dewa siwa dengan daun bila selama semalam itu mendapatkan identitas dengan Dewa Siwa.

Sivaratrivratam rajan vratanam attamam tatha
Sivaratrir mahavahnir bhavaniscasamanvita
Artinya :
Malam Siwa yang diasosiasikan dengan Dewa Bhavani, begitu terjadi kontak membakar bahan bakarnya dosa baik basah maupun kering.

Demikian Padmapurana menguraikan hakekat penghormatan malam siwa kehadapan Dewa Siwa sebagai manifestasi Tuhan yang maha sempurna.
Mpu Tanakung dengan menulis kekawin Siwaratrikalpa oleh para peneliti dianggap telah membuat terobosan karena karya sastranya merupakan satu-satunya kekawin yang menjadikan manusia biasa malah manusia papa sebagai tokoh utamanya dan karya sastra ini berhasil hadir dalam suatu kegiatan keagamaan.

  • Share On Facebook
  • Digg This Post
  • Stumble This Post
  • Tweet This Post
  • Save Tis Post To Delicious
  • Float This Post
  • Share On Reddit
  • Bookmark On Technorati

YOUR ADSENSE CODE GOES HERE

0 komentar:

Have any question? Feel Free To Post Below:

Archive

 
© 2012 SOFTECHNOGEEK | Modifikasi dan Publikasi Kodokoala. All Rights Reserved.