Kalender Bali Online

Jumat, 12 Oktober 2012

Sejarah Agama Hindu

Diposkan oleh I WAYAN SUDIRA at Jumat, Oktober 12, 2012


1.      Sejarah Perkembangan Agama Hindu di India
Istilah ‘Hindu’ diberikan oleh orang-orang asing yang datang ke India, seperti: Arab, Persia, Yunani. Yang dimaksud Hindu oleh mereka, adalah orang-orang yang mendiami daerah lembah sungai Sindhu, termasuk agama dan kebudayaan yang dianut. Istilah ‘Hindu’ untuk pertama kali secara resmi dipakai oleh raja-raja yang memerintah di Kerajaan Wijayanagar pada ke-15 M. Orang-orang Hindu menyebut agamanya Waidika Dharma atau Agama Weda, karena berumber pada Weda. Agama Weda didasarkan pada sastra-sastra yang sangat banyak jumlah dan jenisnya; keseluruhan sastra-sastra itu disebut Weda (Pengetahuan Suci).

Berikut ini Sejarah Agama Hindu di India :
1.      Peradaban Lembah Sungai Sindhu (2.500 – 1.500 SM)
2.      Zaman Weda (1.500 – 800 SM)
3.      Zaman Brahmana (800 SM – 200 M)
4.      Zaman Purana (200 – 700 M)
5.      Zaman Pembaharuan (700 – 1.200 M)
6.       Zaman Gerakan Bhakti (1.200 – 1.800 M)
7.      Gerakan Hindu Modern (1.800 – Sekarang)
Berikut diuraikan sejarahnya :
1.      PERADABAN LEMBAH SUNGAI SINDU (2.500 – 1.500 SM)
Ditemukan peninggalan purbakala di daerah lembah Sungai Sindhu di distrik Sind di daerah Mahenjodaro dan di distrik Punjab Barat di daerah Montgomery pada tahun 1921.
Ciri-ciri yang menonjol adalah adanya pemujaan kepada Mother Goddess (Dewi Ibu). Mereka percaya bahwa Mother Goddes atau kekuatan perempuan (Shakti) merupakan sumber dari semua ciptaan. Mereka juga memuja Male God, dalam wujud Siwa sebagai Mahayogi dan Siwa Pasupati atau dewa penguasa binatang buas. Hal ini sesuai dengan atribut yang dikenakan seperti Trinetra (bermata tiga) dan Trisula. Mereka juga memuja Siwa-Lingga. Wujud Lingga ini sampai sekarang dipuja. Mereka percaya bahwa batu dan pohon didiami oleh roh halus baik yang jahat maupun baik (animisme) Binatang seperti: lembu, harimau, Garuda juga dipuja.
2.   ZAMAN WEDA (1.500 – 1.000 SM)
Peradaban Lembah Sungai Sindhu kemudian dilanjutkan oleh suku Bangsa Arya, yang memasuki India dari Barat-Laut, menetap di Lembah Sungai Sindhu dan Saraswati. Sastra-Sastra yang tertua dari bangsa Arya, yaitu kitab suci Weda, tidak diketahui tarikh tahunnya. Kata weda berasal dari urat kata wid, yang artinya ‘pengetahuan’ atau ‘mengetahui’. Weda terdiri dari kitab Sruti dan Smrti. Weda Sruti: Catur Weda, yaitu Rig Weda, Sama Weda, Yajur Weda,dan Atharwa Weda. Weda Smrti, seperti: Ayur Weda, Dharma Weda, Dhanur Weda, dll
3.   ZAMAN WEDA KUNO (RIG WEDA)
Pada zaman ini orang-orang Arya memuja kekuatan dan manifestasi dari alam, misalnya: pemujaan Surya (langit), Indra (halilintar), Parjanya (awan), Wayu (angin), Marut (angin ribut), Agni (api) dll. Konsep Ketuhanan mereka adalah henotheisme atau kathenotheisme. Meraka kemudian memanusiakan dan mewujudkannya sebagai Dewa. Jumlah dewa yang dipuja pada zaman ini sebanyak 33 dewa. Waruna merupakan dewa yang paling mulia, pemimpin para dewa, maha tahu, penguasa alam semesta. Indra adalah dewa yang paling banyak dipuja, hampir 25% nyanyian pujian pada Rig Weda dtujukan kepada Indra. Agama Rig Weda tidak mengajarkan umat menyembah, membuat patung, membuat kuil tempat pemujaan. Mereka sembahyang di tempat terbuka.
4.  ZAMAN WEDA BARU
Pada zaman ini dijumpai kitab: Sama Weda, Yajur Weda, dan Atharwa Weda, termasuk Wedanta, yang semuanya wahyu dari Tuhan, yang dikodifikasi oleh Bhagawan Abhyasa. Pada zaman Sama Weda: mantra-mantra sloka dari Rig Weda mulai dinyanyikan pada upacara yajna. Nyanyian suci dikodifikasikan dalam bentuk kitab Sama Weda. Pada zaman Yajur Weda, disusun cara-cara melakukan upacara yajna (kurban suci). Kedudukan Yajna pada zaman ini sangat penting. Yajna dipandang sebagai satu-satunya jalan untuk mencapai moksa. Selama upacara yajna berlangsung ketiga kitab suci (Trayi Weda), yakni: Riga, Sama, dan Yajur Weda harus dibawa dan dinyanyikan mantranya oleh Brahmana. Demikian juga pelaksanaan upcara harus sesuai dengan Yajur Weda. Pada zaman Atharwa Weda, bangsa Arya menemukan mantra-mantra gaib untuk melawan ilmu sihir, penyakit, serta tata cara pemakaman jenazah.

5.  ZAMAN BRAHMANA(800 – 300 SM)
Pada zaman ini pengkodifikasian kitab-kitab suci Weda sudah selesai. Para Rsi sudah tidak lagi mendapat wahyu lagu. Orang orang Arya sudah mulai menyebar ke arah Timur. Pada zaman ini pula, Catur Weda mulai ditafsirkan oleh para Rsi. Tafsiran kitab-kitab Weda ini disebut kitab-kitab Brahmana. Pembagian warna dalam arti kasta sudah mulai berkembang, tanah-tanah dikuasai oleh golongan bangsawan. Upacara agama yang besar, megah, dan mahal berkembang, dilakukan oleh golongan aristokrat, akibatnya golongan Brahmana pun menjadi penting. Zaman Brahmana, dibagi dalam 3 (tiga) zaman, yaitu
1. Zaman Kejayaan Hindu
2. Zaman Kemunduran Hindu
3. Zaman Kebangkitan Hindu.
6.  ZAMAN KEJAYAAN HINDU(800 – 600 SM)
Spirit keagamaan mengalami perubahan, tidak ada lagi upacara2 kecil, melainkan upacara yajna besar dan rumit, sehingga golongan Brahmana memiliki kekuasaan dan mendapat perlakuan istimewa. Upacara meliputi: mulai dari manusia dalam kandungan sampai meninggal, bahkan sampai yajna yang berhubungan dengan roh yang telah meninggal. Upacara yang terbesar adalah Aswamedhayajna, korban kuda, memakai ratusan Brahmana, serta mengorbankan binatang dalam jumlah banyak. Pada zaman Aranyaka muncul ajaran bertapa atau meditasi dalam usaha menguak misteri semesta. Pada zaman Upanisad muncul ajaran yang berdasarkan filsafat dan logika. Ajaran dituangkan dalam kitab-kitab Upanisad. Ada beberapa konsepsi penting yang ditemukan para Rsi yang membaca kitab-kitab suci di hutan(1)Alam semesta diciptakan dari yajna dan dipelihara dengan yajna, (2) Konsep Brahman – Atman, Samsara (punarbhawa), (3)Karma, samsara (punarbhawa), dan moksa.
7.  ZAMAN KEMUNDURAN HINDU(600 – 300 SM)
Muncul protes dan perlawanan yang menentang ajaran Brahmana, yang mengajarkan upacara yajna, berbagai ritual serta pembunuhan bermacam-macam binatang dalam jumlah yang tidak sedikit, dengan biaya mahal.. Gerakan perlawanan ini dipimpin oleh para penganut Buddha, Jaina, Carwaka, dll, yang menolak wewenang dan otoritas kaum Brahmana. Mereka menentang ritual-ritual yang bersumber pada Weda. Sebaliknya mengajarkan, mengagungkan etika tapa-brata, dan penebusan dosa dg disiplin ketat untuk mencapai moksa (bebas dari kelahiran dan kematian). Agama Buddha begitu cepat meluas, ke seluruh masyarakat yang beragama Brahmana. Yang masih taat agama Hindu kebanyakan kaum Brahmana. Pada zaman ini Hindu pecah menjadi 2 (dua) yaitu: Golongan Heterodoks/rasionalis: penganut Buddha, Jaina, Carwaka dsb dan Golongan Orthodoks: penganut Brahmana
 8. ZAMAN KEBANGKITAN HINDU(300 – 200 SM)
Pushyamitra seorang Brahmana yang memimpin perlawanan penganut agama Brahmana menyerang penganut Buddha dan golongan rasionalis. Ia menghidupkan kembali upacara Aswamedhayajna. Dalam perlawanan menentang agama Buddha, agama Brahmana (Hindu) pecah menjadi 2 (dua) mazab besar, yaitu Saiwa dan Waisnawa. Mazab Saiwa: Karma Kanda, ritual, kitab Brahmana, memuja Tri Murti. Mazab Waisnawa (Wedantis): Jnana Kanda, menolak ritual, warna, dan kekuasaan Brahmana. Kaum Brahmana melarang pembacaan kitab suci Weda untuk umum, karena takut salah tafsir terhadap kitab suci Weda. Larangan ini membuat para Wedantis membuat kitab suci baru yang disebut: Pancama Weda, seperti: Ramayana, Mahabharata, Bhagawad Gita. Demikian juga kitab-kitab Upanisad disempurnakan; misalnya: Sad Darsana: Samkhya, Yoga, Nyaya, MImamsa, dan Wedanta. Kitab Brahmana: Kalpa Sutra, Grihya Sutra, Dharma Sutra dan sebagainya.

2.      Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Nusantara
Menurut Gonda (1973),Agama dan kebudayaan India untuk pertama kalinya diintroduksikan ke pulau Jawa oleh seorang brahmana bernama Tritresta bersama pengikutnya.orang tersebut identik dengan aji saka. Masuknya Agama Hindu dan kebudayaan India itu ke kepulauan Nusantara diperkirakan pada abad ke satu Masehi. Tahun kedatangannya itu yaitu pada tahun 78 Masehi, jadikan tahun pertama penanggal saka (Pandit dan Tamba, 1995)
Yang mula-mula dikembangkan adalah aliran Siwa oleh Rsi Agastya jauh sebelum tahun tersebut, penanggalan tahun Saka sendiri di India memang sudah ada. Di samping tahun saka tersebut, india sudah memiliki beberapa penanggal tahun lainnya.Demikianlah Brahmana Tristresta yang diidentikkan dengan Aji Saka, memang adalah yang membawa semua kekayaankeagamaan ke Nusantara, sesuai dengan arti namanya. Demikianlah kedatangan aji saka ke nusantara yaitu 78 tahun setelah Masehi, dipergunakan dalam perhitungan tahun Agama
 Hindu di Nusantara, misalnya bila tahun masehi adalah tahun 2008, maka tahun saka berarti = 2008-78=1930 Saka, Agastya adalah pembawa paying Siwa, dengan kata lain menjadi pengganti Siwa. Dia memegang panji-panji Dharma; artinya di amelindungi ajara Buddha (Poerbatjaraka, 1992).
Kedatangan Agama Buddha di nusantara diperkirakan antara abad ke2-3 setelah masehi. Ini dibuktikan ditemukannya sebuah arca Buddha di Sempaga (pantai Barat Sulawesi Tengah). Arca tersebut memperlihatkan ragam seni Arca Amarawati di India Selatan. Daerah Amarawati di India pernah merupakan pusat pengembangan Agaa Buddha Hinayana, khususnya yang beraliran Mahasanghika (Wirjosuparto, 1964).
Sekitar tahun 400 Masehi dibuktikan adanya kerajaan-kerajaan Hindu yang pertama di Nusantara, ialah di Kutai, Kalimantan Timur. Nama raja yang pertama di Kutai adalah Sri Maharaja Kudunga. Kemudian ia diganti oleh putranya bernama Sri Aswawarman. Raja ini diganti oleh putranya bernama Sri Mulawarman yang masyur, agama yang dipeluknya disebut Waprakeswara. Nama ini diJawa berubah menjadi Bapakeswara, suatu tempat suci, candi untuk memuliakan tiga Dewa Besar yaitu Brahma-Wisnu-Siwa. Ketiganya disebut juga Tri Murti = berbadan tiga, misalnya candi prambanan. Mulawarman diyakini memuja ketiga-tiganya, tetapi Dewa Siwa diberikan tempat tertinggi  (Poerbatjaraka, 1951).
Pada jaman keemasan Negara Tumapel dan Majapahit, menjadi kebiasaan tidak menyebut kuil kerajaan dengan nama Isawara, tetapi menggantikannya dengan “pura”. Tidak menjadi soal , apakah kuil untuk Siwa ataupun Buddha. Kebiasaan ini masih berlaku di Bali hingga kini. Juga di luar Bali yang penduduknya beragama Hindu.
Kerajaan pertama di seluruh Jawa bernama kerajaan Aruteun letaknya di Jawa Barat, didekat kota Bogor sekarang. Kata Aruteun dalam logat Cina terdengar holotan, transliterasi Cina. Tidak mengherankan demikian, sebab dalam abad ke lima itu, kerajaan aruteun tersebut beberapa mengirimkan utusan ke Negeri Cina (Muljana, 1980). Kemudian kerajaan Aureteun diruntuhkan oleh Kerajaan Taruma Negara. Secara Singkat dibawah ini diuraikan mengenai kerajaan-kerajaan Hindu Budha di Nusantara diantaranya:
1.       Kerajaan Kutai di Kalimantan timur tahun 400 M (Kerajaan Hindu), Raja yang pertama, Kudungga, Raja yang terkenal : Mulawarman
2.       Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat tahun 500 M (Kerajaan Hindu)
Raja yang terkenal : Purnawarma.
3.       Kerajaan Kalingga di Jepara (Jawa Tengah) tahun 640 M (Kerajaan Budha)
Raja yang terkenal : Ratu Shima.
4.       Kerajaan Mataram Hindu di Jawa Tengah tahun 732 M (Kerajaan Hindu)
Raja yang pertama : Sanjaya, Raja yang terkenal : Balitung
5.       Kerajaan Sriwijaya di Palembang abad VII (Kerajaan Budha), Raja yang pertama : Sri Jaya Naga, Raja yang terkenal : Bala Putra Dewa
6.       Kerajaan Medang di Jawa Timur abad IX (Kerajaan Hindu)
Raja yang terkenal : Empu Sendok.
7.       Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur tahun 1073 M (Kerajaan Hindu)
Raja yang pertama dan terkenal : Airlangga
8.       Kerajaan Kediri di tepi Sungai Berantas Jawa Timur abad XII M (Kerajaan Hindu)
Raja yang pertama : Jaya Warsa, Raja yang terkenal : Jaya Baya
9.       Kerajaan Singasari di Jawa Timur tahun 1222 - 1292
Raja yang pertama : Sri Rajasa (Ken Arok), Raja yang terkenal : Kertanegara (Joko Dolok)
10.   Kerajaan Majapahit di Delta Brantas tahun 1293 - 1520 (Kerajaan Hindu), Raja yang pertama : Raden Wijaya, Raja yang terkenal : Hayam Wuruk, Raja yang terakhir : Brawijaya (Kertabumi), Patih yang terkenal : Gajah Mada
11.   Kerajaan Pajajaran di Priangan (Jawa Barat) tahun 1333 (Kerajaan Hindu), Raja yang terkenal : Sri Baduga Maharaja, Raja yang terakhir : Prabu Sedah

  • Share On Facebook
  • Digg This Post
  • Stumble This Post
  • Tweet This Post
  • Save Tis Post To Delicious
  • Float This Post
  • Share On Reddit
  • Bookmark On Technorati

YOUR ADSENSE CODE GOES HERE

0 komentar:

Have any question? Feel Free To Post Below:

Archive

 
© 2012 SOFTECHNOGEEK | Modifikasi dan Publikasi Kodokoala. All Rights Reserved.