Kalender Bali Online

Selasa, 09 Oktober 2012

Etika Hindu pada upacara hari Saraswati

Diposkan oleh I WAYAN SUDIRA at Selasa, Oktober 09, 2012


Masyarakat Hindu di Bali adalah masyarakat yang penuh dengan tata krama. Sebab yang menjadi indikator dari masyarakat beradab, adalah prilakunya. Sebagaimana halnya diungkapkan dalam Kakawin Nitisastra, Sargah I, Sloka 6, yang artinya sebagai berikut:

         Jika engkau ingin mengetahui dalamnya air telaga,
         Cabutlah batang tunjung sebagai penduga.
         Kebangsawanan seseorang nampak pada tingkah laku, tabiat
         Serta gerak – geriknya.
         Tanda Pendeta adalah kesabaran, keikhlasan, kehalusan dan
         Ketenangan budhinya.
         Tanda orang yang sempurna ilmunya, bahasanya bagai air kehidupan
         Dapat membikin tenang dan girang orang yang mendengarnya.

Kalau kita simak dari sloka diatas, sudah barang tentu Etika, sangat penting dalam hidup bermasyarakat, bahkan yang menjadi opini dalam masyarakat, bahwa, kemampuan orang bukan dilihat dari kesanggupannya melafalkan ayat- ayat Weda, tetapi sejauh mana prilakunya dapat dikatakan baik oleh masyarakat.
Oleh sebab itu ada tiga indikator yang menjadi ukuran masyarakat, yaitu:
·                Sosio Theologis, hubungan antara manusia dengan Tuhan, sifatnya sangat pribadi dan individual, dan semua manusia sama kedudukannya dihadapan Hyang Widi.
·                Sosio Sosiologis, hubungan antara manusia yang satu dengan manusia lainnya dalam komonitas masyarakat. Masyarakat adalah penentu dan menjadi wasit dalam mencari pembenaran. Masyarakat yang mengatakan itu benar dan itu salah.
·                Sosio Kultural, gabungan kedua unsur diatas, dengan imflementasinya menyerap kearifan budaya lokal, sesuai dengan tradisi setempat, yang memunculkan sikap religius dalam habitat masyarakat.

Terhadap hal itu  sesuai dengan salah satu ajaran Agama Hindu yang disebut dengan  Tiga kerangka Agama Hindu.Tiga Kerangka Agama Hindu, yaitu, Tattwa Susila dan Upakara, semua unsur itu memiliki nilai Etikanya.  Sehingga Etika mendominasi dalam setiap aktifitas manusia dalam masyarakat.
Begitu juga halnya Etika dalam Upacara, seperti Etika Upacara Saraswati. Nilai Etika yang kita gali, bukan semata- mata tatakrama dalam upacara tersebut, tetapi mencoba mencari makna melalui penyelidikan dengan mempergunakan akal budhi tentang baik dan buruk prilaku yang ditimbulkan dalam Upacara Saraswati. Saraswati yang dirayakan setiap 210 hari, yaitu setiap Saniscara ( Sabtu ) Umanis Watugunung. Diyakini sebagai hari Pemujaan terhadap Dewi Saraswati sebagai Dewanya Ilmu Pengetahuan. Pelaksanaan  Upacara Saraswati, diharapkan dapat memahami Ilmu Pengetahuan untuk kepentingan orang banyak sebagai wujud dharma bhakti sesama manusia, dan bukan kepentingan diri sendiri yang diboncengi oleh sifat keakuan.


         UPACARA SARASWATI.
1.      Bentuk Upacara Saraswati menurut lontar Tutur Saraswati, adalah Banten Saraswati, daksina, peras, penyeneng, sesayut, ajuman dan woh- wohan, dan berkembang sesuai dengan tradisi setempat.
Dihaturkan pada Lapan atau sebuah pelinggih. Pada Pelinggih itu ditempatkan sebuah keropak lontar, atau buku, usahakan yang beraksara Bali. Hal ini disebabkan oleh karena Dewi Saraswati tidak memiliki Stana, sebagai mana halnya Dewa  lainnya memiliki Pura tempat pemujaan. Tetapi Dewi Saraswati berstana pada Aksara.
2.      Fungsi dan makna Upacara Saraswati, menurut Lontar Tutur Saraswati, adalah untuk memohon kehadapan Dewi Saraswati  sebagai Dewanya Ilmu Pengetahuan, agar dapat memberikan pencerahan pengetahuan bagi seluruh umat manusia berupa ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan duniawi serta membebaskan diri dari belenggu penderitaan.
3.      Dikabupaten Karangasem ada tradisi dikalangan masyarakat luas, bahwa pada Hari Suci Saraswati ini dimanfaatkan untuk melaksanakan Brata Saraswati, diiringi dengan Upacara Pawintenan Saraswati, yang maknanya pembersihan jasmani dan rokhani sebelum memepelajari ilmu pangetahuan, agar tidak terjadi penyalahgunaan terhadap ilmu pengetahuan tersebut.
4.      Keesokan harinya diadakan Upacara Banyu Pinaruh, yang maknanya memohon kebijaksanaan Dewi Saraswati, melalui mohon tirta panglukatan di Sumber mata air, campuhan, dan lautan. Sarana air yang dimanfaatkan karena air sebagai media yang mampu menyerap prana ( energi positif ).

    ETIKA DALAM UPACARA SARASWATI.
Dalam penterapan etika Hindu umat agar dapat memilih sistem mana yang akan dipakai, serta prinsif yang akan ditegakkan, dan aturan atau dasar etika mana yang akan dipergunakan dalam melaksanakan Upacara Saraswati.
1.      Sistem Etika yang diterapkan pada Upacara Saraswati.
Sistem Etika yang diterapkan oleh umat Hindu dalam rangka merayakan Hari Suci Saraswati, pada umumnya adalah :
·         Deontologikal, absolut atau mutlak sesuai dengan ajaran sastra. Sastra mengajarkan bahwa pada saat Hari Piodalan Sang Hyang Aji Saraswati, umat diharapkan untuk :
a.       Mengadakan persembahyangan pada pagi hari.
b.      Tidak melakukan kegiatan yang berhubungan dengan aksara, karena Sang Hyang Aji Saraswati, yang berstana pada aksara sedang dihaturi piodalan.
c.       Keesokan harinya dilaksaanakan Upacara Banyu Pinaruh, yang maknanya memohon kebijaksanaan kehadapan Sang Hyang Aji Saraswati. Etikanya semakin tinggi pengetahuannya biasanya semakin bijaksana orang itu.
·         Teleologikal, pelaksanaannya disesuaikan dengan tradisi setempat hal ini dapat disaksikan dalam masyarakat di Kabupaten Krangasem, setiap Hari Suci Saraswati, masyarakat umum melaksanakan Brata Saraswati, bentuk pelaksanaannya tidak akan makan dan minum sebelum selesai prosesi pelaksanaan Upacara Piodalan Sang Hyang Aji Saraswati, yang didahului dengan makan lungsuran banten Saraswati yang berbentuk aksara, dengan tujuan aksara itu akan merasuk didalam tubuh sebagai kekuatan taksu tempat bersemayamnya ilmu pengetahuan.
·         Bagi yang berkeinginan mempelajari aksara yang bersifatl sakral, didahului dengan Upacara Pewintenan Aksara, sebagai wujud etika, agar nantinya setelah ilmu itu didapat mampu mengendalikan diri sebagai simbolisasi Upacara Pawintenan Aksara yang bertujuan pembersihan jasmani dan rokhani.

2.      Prinsip Etika yang diterapkan pada Upacara Saraswati
Ada beberapa prinsip Etika yang dapat dipergunakan dalam Upacara Saraswati, diantaranya:
         a. Etika religi Hindu.
·         Tatacara pelaksanaannya sesuai dengan sastra agama, misalnya upacara persembahyangan dilaksanakan pada pagi hari dengan perangkat upakara sebagai mana mestinya.
         b. Etika sosial Hindu.
·         Terjadinya komunikasi antar peserta persembahyangan, umumnya para pelajar, sehingga membuka wawasannya terhadap orang lain dan caranya bersahabat dalam komunitas Hindu.
·         Saling mengenal antar pelajar, karena merasa mempunyai tujuan yang sama akan meminimalisasi munculnya bentrokan fisik antar pelajar.
        c..Etika Budaya Hindu.
·         Akan tampak kesemarakan berpakaian adat sembahyang, sebagai wujud Bhakti kehadapan Tuhan, yang nantinya dapat membentuk jiwa  yang bernuansa budaya Bali.
·         Memberikan sentuhan budaya dalam prilakunya, bahwa diantara mereka adalah satu kesatuan  budaya yang berbeda keberadaannya dalam individu.

d. Etika Pendidikan Hindu,
·         Etika mendidik yang dapat kita petik dalan Upacara Saraswati, diantaranya, membiasakan diri bersembahyang dalam rangka menciptakan keseimbangan antara jasmani dan rokhani.
·         Mengajarkan hidup disiplin minimal kepada dirinya sendiri, sebelum berbuat disiplin kepada orang lain, melalui belajar melihat kepentingan orang lain pada saat bersembahyang agar terbiasa kita berinvestasi sosial kepada orang lain.
e.Etika Ekonomi Hindu.
·         Etika ekonomi Hindu yang dapat kita lakukan pada saat Upacara Saraswati, ialah dengan belajar membuat upakara yang sederhana, berarti telah terjadi pengeluaran keuangan.
·         Bagi orang yang tidak sempat membuat upakara, masih memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menjual jasanya dengan jalan membuatkan banten.
            f. Etika Politik Hindu.
·         Etika Politik Hindu yang dapat kita saksikan dalam Upacara Saraswati, ialah bagaimana peserta persembahyangan dapat menghormati fungsi dan wewenang para petugas upacara antara lain, Pemangku, Sarati Banten, maupun Pengenter Persembahyangan, untuk kita tunduk dengan aturan yang ada.
·         Bagi para Pemangku, Sarati Banten dan Pengenter Persembahyangan dapat melaksanakan tugas secara bersahaja memfungsikan dirinya sehingga masing – masing orang dapat menghormati hak dan kewajibannya.

3.      Pelaksanaan Etika Pada Upacara Saraswati.
Pelaksanaan upacara Saraswati hendaknya mengacu kepada :
  1. Kebebasan, dalam hal memutuskan bentuk dan jalannya upacara Saraswati.
  2. Kebenaran, dalam hal memberikan penafsiran terhadap bentuk, dan runtutan jalannya Upacara Saraswati.
  3. Pelaksanaan Upacara tidak merusak atau merugikan masyarakat luas dan umat Hindu.
  4. Menguntungkan umat, artinya pilihan terhadap pelaksanaan Upacara Saraswati tidak merugikan umat dan masyarakat, baik secara ekonomi, sosial, moral maupun spiritual.
  5. Keadilan, artinya setiap umat mempunyai kesempatan dan pelayanan yang sama dalam melaksanakan Upacara Saraswati.

4.      Peraturan Etika.
         Pelaksanaan Upacara Saraswati berpedoman kepada  Sloka Bhagawad Gita, Bab VII, sloka 16, disana dijelaskan sebagai berikut:
Ada ajaran yang disebut Catur Vida Bhajante, yaitu ada empat tujuan orang melakukan persembahyangan, yaitu:
1.      Arto, artinya orang melaksanakan upacara persembahyangan disaat sedang menderita.
2.      Arthati, artinya orang melakukan upacara persembahyang denghan tujuan untuk mendapat kedudukan dan kekayaan.
3.      Jnani, orang melaksanakan upacara persembahyangan dengan tujuan mendapat kepinteran.
4.      Sukrtino, artinya orang melaksanakan upacara persembahyangan memang merupakan keinginan. Sebab bersembahyang merupakan kewajiban bagi dirinya.
Kemudian hal ini dipertegas lagi dalam Bab VII, sloka 17, sebagai berikut:
Diantara mereka, yang berilmu selalu memusatkan pikiran
dan berbhakti kepada Yang Satu, adalah mulia.
Sebab itu dialah yang Aku sangat kasihi dan dia kasih kepada Aku.


   KENYATAAN DALAM PELAKSANAAN UPACARA SARASWATI.
Dalam pelaksanaan Upacara Saraswati, dibeberapa tempat di Bali masih ada yang belum sesuai dengan Etika Hindu, terutama dalam hal :
1.      Etika umat dalam hal pembuatan bentuk dan fungsi sarana upakara.
2.      Etika yang terkait dengan tempat mempersembahkan sarana upakara.
3.      Etika pada waktu bersembahyang.
4.      Etika awal dan akhir persembahyangan tidak saling mendahului.
5.      Etika kebersihan agar tidak meninggalkan sampah utamanya pelastik diareal tempat persembahyangan ( Pura ).

Simpulan.

1.      Etika Hindu adalah pedoman yang harus diikuti oleh umat Hindu dalam melaksanakan upacara Saraswati
2.      Sistem etika yang diterapkan dalam pelaksanaan upacara Saraswati, disesuaikan dengan tradisi setempat, dengan berusaha mengacu kepada kebenaran sastra.
3.      Prinsip etika yang diterapkan dalam pelaksanaan Upacara Saraswati tidak memberatkan umat, mudah untuk dibuat dan murah dengan harapan tetap mengacu kepada kebenaran sastra agama.
4.      Dasar pertimbangan pelaksanaan Upacara Saraswati, berdasarka etika yang terdapat dalam :
·         Lontar Tutur Saraswati.
·         Lontar Brata Saraswati.
·         Kitab Silakrama.
·         Bhagawad Gita.
·         Sarasamuscaya.
·         Dresta.( kebenaran tradisi )
·         Acara, ( kebenaran yang sudah diwarisi )
·         Atmanastusti.( kebenaran yang sudah disepakati oleh pemuka agama).
5.      Pada umumnya pelaksanaan Upacara Saraswati sudah semakin mantap sesuai dengan Etika Agama Hindu. Hal ini tampak dari semakin semaraknya dan secara menyeluruh Pelaksanaan Upacara Saraswati dilakukan  diseluruh sekolah di Bali sampai munculnya Pesantian  dan Dharmatula sebagai wujud kebangkitan terhadap ajaran Agama Hindu. Tetapi sangat perlu diberikan Dharmawacana untuk bisa memperjelas pemahamannya terhadap ajaran Agama, utamanya makna Saraswati.
Ditinjau dari segi, makna upacara Saraswati, fungsi upakaranya, serta nilai etika yang terdapat dalam pelaksanaan Upacara Saraswati.
Artikel by : Ida Made Pidada Manuaba, S.Ag, M.Si

  • Share On Facebook
  • Digg This Post
  • Stumble This Post
  • Tweet This Post
  • Save Tis Post To Delicious
  • Float This Post
  • Share On Reddit
  • Bookmark On Technorati

YOUR ADSENSE CODE GOES HERE

0 komentar:

Have any question? Feel Free To Post Below:

Archive

 
© 2012 SOFTECHNOGEEK | Modifikasi dan Publikasi Kodokoala. All Rights Reserved.